review-film-pride-and-glory

Review Film Pride and Glory

Review Film Pride and Glory. Film Pride and Glory yang dirilis pada 2008, kembali menjadi bahan diskusi hangat di akhir 2025 ini. Meski awalnya mendapat sambutan campuran dan dianggap kurang sukses secara komersial, karya sutradara Gavin O’Connor ini kini sering disebut sebagai hidden gem yang underrated, terutama berkat akses mudah di layanan streaming gratis dan gelombang ulasan baru di forum online. Cerita berfokus pada keluarga polisi New York multi-generasi, di mana Ray Tierney harus menyelidiki skandal korupsi yang melibatkan saudara iparnya sendiri. Diperankan Edward Norton sebagai Ray, Colin Farrell sebagai Jimmy Egan, Jon Voight sebagai ayah keluarga, serta Noah Emmerich, film ini menyajikan drama polisi gritty dengan konflik keluarga dan moral yang dalam. Di tengah tema akuntabilitas polisi yang masih aktual, Pride and Glory terasa semakin berharga sebagai thriller yang berani gambarkan sisi gelap seragam biru. BERITA BOLA

Plot yang Intens dan Konflik Keluarga yang Menyakitkan: Review Film Pride and Glory

Pride and Glory dibuka dengan pembantaian empat polisi di sebuah apartemen narkoba, memicu investigasi yang dipimpin Ray Tierney – detektif yang trauma setelah kasus lama gagal. Ia segera menemukan jejak korupsi menuju unit yang dipimpin saudaranya Francis (Emmerich), dengan Jimmy Egan (Farrell) sebagai pelaku utama yang kejam. Plot berkembang melalui pengungkapan bertahap: suap, pemerasan, hingga pembunuhan untuk tutupi jejak.

O’Connor membangun ketegangan melalui dinamika keluarga, di mana loyalitas darah bertabrakan dengan tugas. Adegan ikonik seperti ancaman dengan setrika panas atau konfrontasi di rumah sakit terasa brutal dan mengganggu, menekankan bagaimana korupsi merusak dari dalam. Meski ada kritik pacing lambat dan klimaks agak berlebihan, alur tetap koheren dengan twist yang fokus pada pengkhianatan pribadi, membuat penonton ikut merasakan dilema Ray yang terpecah antara keluarga dan keadilan.

Penampilan Ensemble yang Memikat dan Nuansa Realistis: Review Film Pride and Glory

Kekuatan besar Pride and Glory ada pada akting para bintangnya. Edward Norton brilian sebagai Ray – pendiam, penuh penyesalan, dan semakin obsesif, menyampaikan transformasi moral dengan ekspresi halus yang khas. Colin Farrell mencuri perhatian sebagai Jimmy, polisi karismatik tapi ganas, memberikan performa intens yang menunjukkan sisi gelapnya tanpa karikatur.

Jon Voight sebagai patriarch Francis Tierney Sr. membawa otoritas dan kerapuhan, sementara Noah Emmerich sebagai Francis Jr. menambah lapisan emosional sebagai saudara yang terjebak. Pemain pendukung seperti Jennifer Ehle sebagai istri Ray yang sakit dan Frank Grillo di peran kecil ikut memperkaya. Chemistry keluarga terasa autentik, didukung arahan O’Connor yang realistis dengan lokasi New York kumuh dan dialog kasar, membuat film ini lebih seperti potret nyata daripada drama sensasional.

Status Underrated dan Relevansi yang Masih Kuat

Pride and Glory sering dibandingkan dengan film korupsi polisi seperti Training Day atau The Departed, tapi dengan pendekatan lebih intim pada ikatan keluarga. Awalnya tertunda rilis dan bersaing dengan film serupa, ia gagal besar di box office, tapi kini dihargai sebagai sleeper hit berkat tema impunitas dan pengkhianatan yang abadi. Di 2025, diskusi online dan akses streaming membawa generasi baru melihatnya sebagai kritik tajam terhadap sistem yang melindungi yang salah.

Pengaruhnya terlihat pada drama polisi modern yang berani eksplor gray area moral, tanpa pahlawan sempurna. Meski Rotten Tomatoes hanya 35%, banyak yang bilang skor itu tak adil mengingat akting dan atmosfer gritty-nya. Film ini membuktikan bahwa cerita tentang “pride” keluarga polisi bisa jadi cermin pahit realitas.

Kesimpulan

Pride and Glory adalah drama polisi underrated yang layak direvaluasi, dengan plot emosional, akting kelas atas dari Norton dan Farrell, serta tema korupsi yang timeless. Di akhir 2025, akses streaming membuatnya sempurna untuk ditonton ulang sebagai hidden gem genre crime. Bagi penggemar thriller keluarga gelap atau kritik institusi, ini wajib; bagi yang baru, bersiaplah untuk cerita yang menyakitkan tapi impactful tentang harga loyalitas. Film ini mengingatkan bahwa di balik kebanggaan seragam, sering ada glory yang ternoda, meninggalkan kesan mendalam tentang integritas yang rapuh.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *