Review Film The First Omen: Asal Mula Setan

Review Film The First Omen: Asal Mula Setan

Review Film The First Omen: Asal Mula Setan. Film The First Omen (2024), prekuel dari The Omen (1976) karya sutradara Arkasha Stevenson, telah menjadi salah satu horor supernatural paling dibicarakan sejak rilis teatrikal April 2024. Hingga Februari 2026, film ini masih sering direkomendasikan sebagai “hidden gem” horor modern dengan rating rata-rata 6,4/10 dari penonton dan 81% di Rotten Tomatoes. Dengan durasi 120 menit, The First Omen mengisahkan asal mula Damien Thorn melalui sudut pandang Margaret Daino (Nell Tiger Free), seorang biarawati muda Amerika yang dikirim ke Roma pada 1971 untuk menjalani tugas akhir sebelum pengucapan kaul abadi. Di balik dinding biara Katolik yang megah, Margaret menemukan konspirasi gelap yang melibatkan gereja itu sendiri dalam kelahiran Antichrist. Film ini berhasil membangun ketegangan lambat yang khas prekuel klasik sambil menambahkan elemen body horror dan gore modern yang membuatnya terasa segar meski berlatar era 70-an. ULAS FILM

Alur Cerita yang Lambat tapi Mencekam: Review Film The First Omen: Asal Mula Setan

Cerita dimulai dengan Margaret yang polos dan taat tiba di Roma untuk bergabung dengan biara terpencil. Ia segera berteman dengan Luz (Maria Caballero), biarawati muda yang lebih bebas, dan mulai merasakan keanehan: mimpi buruk berulang, suara aneh di malam hari, dan perilaku aneh dari beberapa suster senior. Ketika seorang biarawati bunuh diri dengan cara mengerikan, Margaret mulai menyelidiki dan menemukan dokumen rahasia yang menunjukkan bahwa gereja sedang merencanakan kelahiran “anak suci” melalui manipulasi genetik dan ritual okultisme.
Alur berjalan lambat di paruh pertama—membangun suasana mencekam melalui keheningan biara, bayangan di koridor, dan close-up wajah yang gelisah. Ketegangan mencapai puncak di paruh kedua ketika Margaret menyaksikan kelahiran bayi yang ditakdirkan menjadi Antichrist, lengkap dengan adegan body horror yang brutal dan disturbing. Tidak ada jump scare murahan; horor datang dari rasa tidak nyaman yang terus bertambah dan pengkhianatan dari institusi yang seharusnya suci. Ending film terasa bittersweet—Margaret selamat, tapi ia tahu dunia sudah berubah selamanya.

Performa Nell Tiger Free dan Estetika 70-an yang Autentik: Review Film The First Omen: Asal Mula Setan

Nell Tiger Free memberikan penampilan breakout sebagai Margaret—dari gadis naif yang penuh iman menjadi wanita yang hancur tapi bertekad melawan. Matanya yang lebar dan ekspresi ketakutan yang halus membuat penonton ikut merasakan paranoia yang ia alami. Pemeran pendukung seperti Sonia Braga (sebagai suster senior yang misterius) dan Bill Nighy (sebagai kardinal yang ambigu) juga memberikan bobot yang kuat.
Estetika 70-an dibuat sangat autentik: warna-warna kusam, grain film, pencahayaan lilin dan lampu neon redup, serta kostum biarawati yang terasa kuno tapi menyeramkan. Penggunaan wide shot biara yang megah kontras dengan close-up tubuh yang terdistorsi menciptakan rasa claustrophobia yang kuat. Adegan kelahiran dan ritual okultisme dibuat sangat disturbing tanpa bergantung pada CGI berlebihan—darah, cairan tubuh, dan ekspresi wajah menjadi elemen horor utama.

Makna Lebih Dalam: Agama, Kekuasaan, dan Kelahiran Kejahatan

Di balik cerita horor supranatural, The First Omen adalah kritik tajam terhadap institusi agama yang korup dan penyalahgunaan kekuasaan atas nama “kebaikan yang lebih besar”. Gereja dalam film ini bukan pelindung iman, melainkan organisasi yang rela melakukan ritual jahat demi “menyelamatkan” dunia dengan cara mereka sendiri. Kelahiran Antichrist bukan kebetulan, melainkan rencana panjang yang melibatkan manipulasi genetik dan pengorbanan manusia.
Film ini juga menyentil tema tubuh perempuan sebagai alat kekuasaan: Margaret yang hamil paksa dan dijadikan inkubator menjadi simbol bagaimana agama patriarkal sering mengontrol reproduksi perempuan. Makna terdalamnya adalah bahwa kejahatan terbesar sering lahir dari niat “baik” yang ekstrem—dan bahwa iman buta bisa menjadi pintu masuk bagi setan. Ending yang ambigu—Margaret selamat tapi dunia sudah berubah—meninggalkan penonton dengan pertanyaan: apakah melawan sistem korup itu mungkin, atau kita hanya bisa menyaksikan kehancuran?

Kesimpulan

The First Omen adalah prekuel horor yang langka: lambat sekaligus mencekam, religius sekaligus subversif, dan sangat atmosferik tanpa bergantung pada jump scare murahan. Kekuatan utamanya terletak pada performa Nell Tiger Free yang luar biasa, sinematografi yang menyeramkan, dan arahan Arkasha Stevenson yang berani menantang narasi agama konvensional. Film ini berhasil menjadi thriller supranatural yang tidak hanya menakutkan, tapi juga membuat penonton berpikir tentang kekuasaan, iman, dan tubuh perempuan dalam institusi patriarkal. Jika kamu mencari horor yang tidak hanya membuat takut tapi juga mengganggu pikiran lama setelah selesai, The First Omen adalah pilihan yang sangat tepat. Tonton sekali saja mungkin tidak cukup—karena setiap kali ditonton ulang, kamu akan menemukan detail baru dalam konspirasi gelap biara itu. Film ini bukan sekadar prekuel The Omen; ia adalah pengingat bahwa kadang kejahatan terbesar lahir dari tempat yang paling suci—dan bahwa pertanyaan “untuk apa aku hidup” bisa menjadi awal dari perlawanan. Dan itu, pada akhirnya, adalah pesan paling menyeramkan yang bisa diberikan sebuah film horor.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *