Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba Infinity Castle

Review Jujur Film Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba

Review Jujur Film Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba. Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba – The Movie: Infinity Castle (2025) menjadi salah satu film anime paling ditunggu dan sukses besar di akhir tahun ini. Tayang perdana di Jepang 18 Juli 2025, lalu rilis global termasuk Indonesia 15 Agustus 2025 (dengan format IMAX dan layar premium), film ini adalah bagian pertama trilogi penutup saga utama, disutradarai Haruo Sotozaki oleh studio ufotable. Berdurasi sekitar 2 jam 35 menit, film ini langsung memecahkan rekor box office dengan pendapatan hari pertama tertinggi di Jepang dan total global mencapai ratusan juta dolar. Melanjutkan cliffhanger season 4 anime, Tanjiro dan Hashira terjebak di Infinity Castle—benteng dimensi Muzan Kibutsuji—untuk pertarungan akhir melawan Upper Rank demons. Dengan animasi luar biasa, aksi intens, dan emosi mendalam, review film ini jadi benchmark baru anime di bioskop.

Sinopsis dan Setting Infinity Castle

Cerita dimulai tepat setelah akhir season 4: Demon Slayer Corps berusaha membunuh Muzan, tapi ia menarik mereka ke Infinity Castle—labirin supranatural tak berujung yang bisa berubah bentuk, seperti tangga tak terbatas ala M.C. Escher versi Jepang dengan fusuma dan shoji sebagai jebakan. Tanjiro Kamado (Natsuki Hanae), Nezuko, dan Hashira menghadapi Upper Rank demons paling kuat seperti Akaza, Doma, dan Kokushibo dalam duel besar. Film ini penuh pertarungan tiga besar, flashback backstory (terutama untuk Akaza dan Hashira), serta momen emosional tentang pengorbanan dan balas dendam. Setting castle ini jadi highlight: tak pernah terasa repetitif meski satu lokasi, karena desainnya dinamis, penuh ilusi, dan visual efek breath techniques (air, api, petir) yang memukau. Ini bukan film pendahuluan biasa—langsung masuk ke klimaks final battle, dengan stakes tinggi dan cliffhanger untuk bagian kedua.

Performa Suara dan Produksi ufotable

ufotable sekali lagi buktikan diri sebagai raja animasi anime. Setiap frame terasa seperti lukisan hidup—efek air, api, dan darah begitu detail, fight choreography rumit dan cepat, plus transisi mulus antara aksi dan emosi. Soundtrack Ramin Djawadi (atau tim ufotable) dengan lagu tema Aimer dan LiSA bikin merinding, terutama di momen klimaks. Pengisi suara Jepang (Natsuki Hanae sebagai Tanjiro, Yoshitsugu Matsuoka sebagai Inosuke, dll.) tetap solid, dengan emosi yang lebih dalam berkat backstory. Di versi dubbing Inggris juga bagus, tapi fans manga sering puji adaptasi ini lebih baik dari manga di beberapa adegan visual. Produksi epik ini terasa seperti film blockbuster Hollywood versi anime—budget besar, detail tinggi, dan pengalaman bioskop yang tak tergantikan.

Kelebihan dan Kekurangan Film Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba Infinity Castle

Kelebihan terbesar adalah visual dan aksi: animasi ufotable set new standard, pertarungan terasa inovatif dan emosional, plus momen karakter growth yang menyentuh (terutama flashback Akaza dan Hashira). Banyak kritikus sebut ini “landmark anime cinema” dengan rating Rotten Tomatoes 98% dan pujian atas storytelling yang heart-pounding. Film ini juga hormati lore manga sambil tambah flair visual. Kekurangan: pacing kadang terasa berat karena banyak flashback dan backstory yang panjang, membuat beberapa adegan terasa seperti “detour” dan mengurangi momentum aksi. Sebagai bagian pertama trilogi, cerita terasa incomplete—cliffhanger kuat tapi tak ada resolusi besar. Bagi yang bukan fans hardcore, lore kompleks dan kekerasan grafis (darah berlimpah, Rated R) bisa overwhelming. Namun, bagi penggemar, ini justru kekuatan: lebih dalam dan intens dari Mugen Train.

Kesimpulan Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba Infinity Castle

adalah masterpiece visual dan emosional yang membuktikan mengapa franchise ini jadi fenomena global. Dengan animasi tak tertandingi, aksi epik, dan cerita yang penuh pengorbanan, film ini jadi awal akhir saga yang memuaskan sekaligus bikin penasaran bagian selanjutnya. Meski pacing dan backstory kadang memperlambat, kekuatannya di spectacle dan hati membuatnya wajib tonton di bioskop—terutama IMAX untuk efek maksimal. Bagi fans lama, ini mimpi jadi kenyataan; bagi yang baru, ini pengenalan ke anime terbaik era ini. Siapkan tisu dan stamina—film ini akan bikin kamu terpukau, haru, dan tak sabar tunggu part 2. Selamat menonton, dan ingat: keep your head up, Tanjiro!

Baca Selengkapnya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *