Review Film Eighth Grade. Film Eighth Grade (2018) karya debut sutradara Bo Burnham tetap menjadi salah satu potret paling akurat dan menyentuh tentang masa remaja awal hingga 2026. Cerita tentang Kayla, siswi kelas 8 yang pemalu tapi berusaha tampil percaya diri di media sosial, ini raih pujian luas karena kejujurannya tangkap kecemasan generasi digital. Dibintangi Elsie Fisher sebagai Kayla dan Josh Hamilton sebagai ayahnya Mark, film ini sering masuk daftar coming-of-age terbaik dekade 2010-an. Di era di mana anak muda semakin bergantung pada layar untuk validasi, Eighth Grade terus relevan sebagai cerminan awkwardness, tekanan sosial, dan perjuangan temukan identitas di usia transisi. BERITA BASKET
Ringkasan Cerita dan Karakter Utama: Review Film Eighth Grade
Cerita mengikuti minggu terakhir Kayla di kelas 8: ia buat video YouTube motivasi seperti “Be Yourself” meski sendiri merasa tak punya teman, sering dianggap “paling pendiam” di sekolah. Di rumah, ia tinggal dengan ayah tunggal Mark yang berusaha dukung tapi sering salah paham. Kayla coba dekati anak populer seperti Kennedy atau Aiden yang disukainya, tapi selalu berakhir awkward—dari pool party yang memalukan sampai shadow day dengan senior. Momen kecil seperti latihan lockdown sekolah atau chat online yang salah arah tambah rasa cemasnya. Film tak pakai plot besar—hanya serangkaian hari biasa yang penuh kecemasan remaja, tapi ditutup dengan harapan saat Kayla bakar kotak waktu masa kecilnya dan mulai terima diri apa adanya. Karakter Kayla terasa sangat nyata: ia tak dramatis atau klise, hanya gadis biasa yang berjuang di dunia yang penuh filter dan like.
Tema Kecemasan Remaja dan Media Sosial: Review Film Eighth Grade
Eighth Grade gali tema kecemasan generasi Z dengan cara yang halus tapi tajam. Kayla hidup di era di mana media sosial jadi ukuran nilai diri—ia buat video percaya diri tapi di sekolah tak berani bicara, nunjukin gap antara online persona dan real life. Tema tekanan sosial terlihat dari interaksi Kayla dengan anak populer: ia dipaksa ikut pool party tapi merasa tak diinginkan, atau coba flirt tapi berakhir awkward. Film kritik halus budaya “be yourself” yang ironis—semua orang bilang begitu, tapi realitas sekolah penuh judgement. Tema hubungan ayah-anak jadi penyeimbang hangat: Mark sering dianggap Kayla “cringy”, tapi adegan api unggun di akhir ungkap ia selalu ada dan bangga pada anaknya. Burnham hindari dramatisasi berlebih—kecemasan Kayla datang dari momen kecil seperti scroll feed atau chat tak dibalas, bikin film terasa sangat relatable bagi yang pernah jadi remaja di era digital.
Penampilan Aktor dan Gaya Sutradara
Elsie Fisher beri performa luar biasa sebagai Kayla—ia baru 13 saat syuting, tapi tangkap awkwardness remaja dengan natural: bicara cepat saat gugup, tatapan kosong saat cemas, dan ledakan emosi yang tiba-tiba. Fisher bikin Kayla mudah disukai meski sering salah langkah. Josh Hamilton hangat sebagai Mark: ayah yang berusaha tapi tak paham dunia anaknya, adegan api unggun jadi salah satu momen paling emosional. Penampilan pendukung seperti Emily Robinson sebagai senior atau Jake Ryan sebagai Aiden tambah nuansa sekolah yang autentik. Bo Burnham, di debut sutradaranya, pilih gaya intim: close-up wajah Kayla saat scroll ponsel, suara notifikasi yang dominan, shot panjang momen awkward tanpa potongan cepat. Sinematografi pakai cahaya alami sekolah dan rumah suburban, skor minimalis tapi tegang saat kecemasan naik. Burnham pakai humor gelap dari pengalaman stand-upnya, bikin film lucu tapi tak kurangi kedalaman emosi.
Kesimpulan
Eighth Grade tetap jadi coming-of-age masterpiece karena tangkap esensi kecemasan remaja era digital dengan kejujuran yang langka—tak beri solusi mudah, tapi cukup beri rasa bahwa awkwardness itu normal. Di 2026, saat anak muda semakin terpapar media sosial sejak dini, film ini ingatkan bahwa di balik filter dan like, banyak yang merasa sama sendiriannya seperti Kayla. Penampilan Fisher ikonik, gaya Burnham segar tapi mendalam, dan tema universal tentang temukan diri di usia 13-14 bikin film abadi sebagai potret generasi yang relatable bagi semua umur. Bukan film dengan happy ending berlebih, tapi yang meninggalkan rasa harapan dan empati. Layak ditonton ulang untuk ingat bahwa masa remaja, meski penuh cemas, adalah bagian indah dari tumbuh dewasa. Film ini bukti bahwa cerita sederhana tentang satu minggu di kelas 8 bisa terasa sangat berarti dan timeless.