Review Film Oldboy. Film Oldboy (2003) karya Park Chan-wook tetap menjadi salah satu masterpiece thriller balas dendam paling ikonik dan mengganggu dalam sejarah sinema dunia hingga 2025. Bagian kedua dari trilogi vengeance setelah Sympathy for Mr. Vengeance, cerita ini ikuti Oh Dae-su, pria biasa yang tiba-tiba dipenjara selama 15 tahun tanpa alasan jelas, lalu dilepas untuk buru dalang di balik penderitaannya. Dibintangi Choi Min-sik sebagai Dae-su dan Yoo Ji-tae sebagai Lee Woo-jin, film ini raih Grand Prix di Cannes 2004 dan jadi fenomena global. Dengan twist legendaris, kekerasan estetis, dan tema incest serta trauma, Oldboy sering disebut sebagai puncak kreativitas Park Chan-wook yang tak tertandingi. BERITA BOLA
Plot dan Twist yang Legendaris: Review Film Oldboy
Cerita dimulai saat Dae-su, pria mabuk dan ceroboh, diculik malam itu juga dan dikurung di kamar hotel pribadi selama 15 tahun—tanpa jendela, hanya TV sebagai hiburan. Saat dilepas tiba-tiba, ia beri waktu lima hari untuk cari tahu siapa dan mengapa. Plot berkembang jadi permainan psikologis sadis: Dae-su temui Mi-do, wanita muda yang bantu dia, sambil buru petunjuk sambil balas dendam pada siapa saja yang menghalangi.
Park Chan-wook bangun suspense dengan ritme sempurna: paruh pertama fokus penjara dan kegilaan Dae-su, paruh kedua ledakan aksi dan pengungkapan. Twist akhir—rahasia hubungan Dae-su dengan Mi-do dan motif Woo-jin—bikin penonton terdiam dan trauma. Adegan ikonik seperti koridor palu satu take panjang jadi simbol kekerasan estetis yang brutal tapi indah. Film ini hindari jawaban mudah: balas dendam beri kepuasan sesaat, tapi akhirnya hancurkan semua pihak.
Akting dan Karakter yang Mengguncang: Review Film Oldboy
Choi Min-sik ikonik sebagai Dae-su: transformasinya dari pria biasa jadi binatang buas setelah 15 tahun kurungan terasa nyata dan menyakitkan—ia bahkan makan gurita hidup untuk adegan, tunjukkan dedikasi total. Yoo Ji-tae dingin dan elegan sebagai Woo-jin: antagonis yang tak hanya kejam, tapi punya motif tragis yang bikin penonton ragu siapa korban sebenarnya. Kang Hye-jung sebagai Mi-do beri keseimbangan lembut di tengah kegelapan.
Karakter tak hitam-putih: Dae-su simpatik karena penderitaannya, tapi tindakannya semakin brutal. Woo-jin jahat tapi punya alasan yang membuatnya manusiawi. Chemistry Choi Min-sik dengan Yoo Ji-tae di adegan konfrontasi akhir penuh emosi—marah, sedih, dan putus asa yang meledak. Akting Choi Min-sik, terutama monolog hypnosis dan makan gurita, jadi salah satu penampilan terbaik aktor Korea sepanjang masa.
Arahan dan Elemen Teknis
Park Chan-wook tunjukkan visi jenius: long take koridor palu yang legendaris, simetri visual sempurna, dan warna hijau-kuning dominan ciptakan atmosfer mimpi buruk. Sinematografi fokus close-up wajah dan detail seperti rambut Dae-su yang tumbuh liar, tambah realisme trauma. Editing non-linear ungkap petunjuk perlahan, sementara skor waltz klasik kontras ironis dengan kekerasan.
Kekerasan estetis—potong lidah, cabut gigi dengan palu—tapi tak gratisan: setiap adegan punya makna naratif dan emosional. Film ini kritik tajam pada trauma, incest, dan siklus balas dendam yang tak pernah beri kedamaian. Pada 2025, elemen teknisnya masih jadi studi kasus—cara Park ubah kekerasan jadi seni tragis tanpa glorifikasi.
Kesimpulan
Oldboy adalah revenge thriller masterpiece yang campur kekerasan estetis, twist mengguncang, dan tema moral gelap yang tak beri jawaban mudah. Park Chan-wook ciptakan dunia di mana balas dendam hancurkan semua, dukung akting legendaris Choi Min-sik dan Yoo Ji-tae yang bikin karakter abu-abu terasa hidup. Film ini tak cuma hiburan—ia trauma penonton dengan pertanyaan tentang identitas, trauma, dan harga kebenaran. Wajib tonton bagi penggemar thriller psikologis yang siap diganggu jiwa. Pada akhirnya, Oldboy ingatkan bahwa beberapa rahasia lebih baik terkubur—karena menggalinya bisa hancurkan segalanya, termasuk dirimu sendiri. Film abadi yang tetap jadi benchmark sinema dunia bertahun-tahun kemudian.