Review Film The Gray Man. Film The Gray Man yang dirilis pada 2022 kembali menjadi sorotan di akhir 2025 ini, terutama setelah sering dibandingkan dengan thriller aksi terbaru dan popularitasnya melonjak lagi di layanan streaming. Disutradarai oleh Anthony dan Joe Russo, film ini dibintangi Ryan Gosling sebagai Court Gentry alias Sierra Six, agen rahasia yang diburu setelah ungkap korupsi internal. Dengan anggaran besar dan durasi sekitar 129 menit, The Gray Man jadi salah satu produksi aksi termahal saat itu, meraup perhatian global meski resepsi kritis campur aduk. Hingga kini, film ini tetap diingat karena skala aksi internasional dan penampilan bintang utamanya. BERITA BOLA
Aksi Spektakuler di Berbagai Lokasi: Review Film The Gray Man
The Gray Man unggul dalam sequence aksi yang masif dan berpindah-pindah lokasi. Cerita dimulai dengan Six yang keluar dari penjara untuk jadi assassin CIA, tapi berubah saat ia temukan bukti korupsi dari atasannya Denny Carmichael yang diperankan Billy Bob Thornton. Ia lalu diburu Lloyd Hansen, psikopat mercenary yang diperankan Chris Evans dengan energi gila dan tak terkendali. Adegan kejar-kejaran trem di Praha jadi sorotan utama—penuh ledakan, tembak-menembak, dan stunt praktikal yang buat penonton tegang. Aksi berlanjut ke Baku, Bangkok, hingga kastil Eropa, dengan helikopter jatuh, pertarungan tangan kosong, dan bom mobil yang dirancang megah. Russo bersaudara bawa pengalaman dari proyek superhero mereka, ciptakan skala besar yang jarang di thriller mata-mata biasa, meski kadang terasa berlebihan.
Penampilan Aktor dan Chemistry Utama: Review Film The Gray Man
Ryan Gosling tampil keren sebagai Six—pendiam, efisien, tapi punya sisi manusiawi saat lindungi anak kecil yang jadi saksi. Ia berikan nuansa cool yang mirip Drive, tapi dengan lebih banyak aksi fisik. Chris Evans curi perhatian sebagai Hansen—jenggotan, sarkastik, dan tanpa moral—kontras total dengan image heroiknya biasa, membuat villain ini menyenangkan untuk dibenci. Ana de Armas sebagai agen Dani Miranda tambah energi tangguh dan chemistry solid dengan Gosling, sementara Regé-Jean Page sebagai Carmichael muda yang ambisius dan Jessica Henwick sebagai rekan Hansen lengkapi ensemble. Dialog banter antara Six dan Hansen jadi highlight, penuh one-liner tajam yang beri keseimbangan humor di tengah chaos.
Tema Konspirasi dan Relevansi Kini
Film ini soroti tema konspirasi internal CIA, di mana agen disposable seperti Six dibuang saat tak lagi berguna. Ada kritik halus tentang birokrasi intelijen yang korup dan mercenary swasta yang tak terkendali. Meski plot sederhana—buru dan diburu—ia tambah lapisan dengan flashback Six di penjara dan hubungan ayah-anak dengan handler Fitzroy yang diperankan Billy Bob Thornton. Di akhir 2025, relevansinya terasa di tengah diskusi tentang operasi rahasia dan etika intelijen modern. Kritikus saat rilis bilang film ini terlalu formulaik dibanding Bourne atau Bond, tapi penggemar aksi puji sebagai hiburan murni dengan produksi kelas atas. Sekuel sudah direncanakan, tunjukkan potensi waralaba baru.
Kesimpulan
The Gray Man tetap jadi thriller aksi yang menghibur dengan skala besar, stunt memukau, dan penampilan kuat Ryan Gosling serta Chris Evans. Meski plot tak terlalu inovatif dan kadang terasa seperti kompilasi adegan aksi, ia sukses beri adrenalin tinggi dengan lokasi global dan villain memorable. Di era streaming penuh blockbuster, film ini bukti bahwa formula klasik buru-diburu masih bisa segar kalau dieksekusi megah. Bagi penggemar aksi nonstop dengan bintang besar, The Gray Man layak ditonton ulang—sebuah ledakan hiburan yang tak pretensius tapi efektif bikin jantung berdegup kencang.