Eternity

Review Jujur Film Tentang Eternity

Review Jujur Film Tentang Eternity. Film Eternity (2025) produksi A24 menjadi salah satu kejutan akhir tahun yang hangat di kalangan pecinta rom-com dengan sentuhan fantasi. Disutradarai David Freyne dan dibintangi Elizabeth Olsen, Miles Teller, serta Callum Turner, film ini tayang perdana di Toronto International Film Festival September lalu, rilis teatrikal di AS pada 26 November, dan mulai merambah bioskop Indonesia sejak awal Desember. Premisnya sederhana tapi menggugah: setelah meninggal, seseorang punya waktu satu minggu untuk memilih di mana dan dengan siapa menghabiskan keabadian. Bagi Joan (Olsen), itu berarti memilih antara suami seumur hidupnya Larry (Teller) atau cinta pertama Luke (Turner) yang meninggal muda dan menunggu puluhan tahun. Dengan durasi sekitar 1 jam 52 menit, review film ini menggabungkan humor ringan, drama emosional, dan dunia akhirat yang kreatif, membuatnya terasa seperti pewaris spiritual rom-com klasik ala screwball comedy.

Sinopsis dan Konsep Dunia Akhirat

Cerita dimulai saat Larry meninggal dan tiba di “The Junction”—sebuah stasiun kereta plus hotel konvensi raksasa yang jadi tempat transisi. Di sini, jiwa baru punya seminggu untuk memilih “eternity” favorit mereka, mulai dari dunia pantai abadi, pegunungan, hingga tema absurd seperti Studio 54 World atau Smokers’ World. Humor muncul dari birokrasi akhirat yang mirip kantor modern, lengkap dengan koordinator afterlife kocak seperti Anna (Da’Vine Joy Randolph) dan Ryan (John Early) yang jadi sumber tawa utama. Ketika Joan tiba tak lama kemudian, konflik meledak: Luke sudah menunggu 67 tahun sejak meninggal di Perang Korea, sementara Larry ingin melanjutkan kehidupan panjang bersama istri. Joan harus memutuskan satu pilihan permanen—tak ada kunjungan antar dunia setelah memilih. Konsep ini cerdas, karena dunia akhiratnya terasa whimsical tapi grounded, dengan visual berwarna-warni, fake sunrise-sunset, dan gags visual yang bikin penonton tersenyum.

Performa Pemeran dan Emosi yang Mengena

Elizabeth Olsen jadi jantung film ini—penampilannya sebagai Joan penuh kerapuhan, kebingungan, dan kedalaman emosi. Ia berhasil membuat penonton ikut merasakan dilema: nostalgia terhadap cinta muda versus kenyamanan cinta panjang yang penuh tawa dan air mata bersama. Miles Teller membawa Larry dengan campuran humor kering dan kerentanan yang relatable, sementara Callum Turner sebagai Luke tampil hangat dan sabar, tapi juga menunjukkan sisi patologi dari menunggu terlalu lama. Chemistry ketiganya kuat, membuat triangle love ini terasa hidup dan tak murahan. Da’Vine Joy Randolph mencuri adegan dengan komedi tajamnya, memberikan relief lucu di tengah momen-momen berat. Secara keseluruhan, acting jadi kekuatan terbesar—film ini berhasil bikin penonton tertawa, menangis, dan berpikir tentang makna cinta serta memori tanpa terasa memaksa.

Kelebihan dan Kekurangan Film Eternity

Eternity unggul dalam world-building yang kreatif dan humor yang breezy, membuatnya terasa segar di tengah banjir film rom-com formulaik. Tema tentang memori, penyesalan, dan pilihan abadi disajikan dengan ringan tapi menyentuh—ada momen di terowongan memori yang bikin haru. Produksi design dan sinematografi cerah, plus musik yang mendukung emosi tanpa over. Namun, beberapa bagian tengah terasa bertele-tele karena terlalu banyak menjelaskan aturan akhirat, dan ending-nya kontroversial bagi sebagian penonton: film ini punya multiple “ending” yang terasa berulang, membuat pesan akhir agak kabur. Bagi yang suka rom-com murni mungkin kecewa karena elemen dramanya lebih dominan, tapi justru ini yang membuatnya lebih dalam daripada sekadar lucu-lucuan. Rating Rotten Tomatoes sekitar 78% menunjukkan penerimaan positif, meski Metacritic lebih mixed di 58/100 karena perbedaan ekspektasi.

Kesimpulan Eternity

adalah rom-com fantasi yang charming, menghibur, dan punya hati—cocok bagi yang ingin tontonan akhir tahun yang bikin tersenyum sekaligus berkaca-kaca. Meski bukan masterpiece sempurna, film ini berhasil menghidupkan kembali vibe rom-com klasik dengan twist modern yang cerdas. Olsen, Teller, dan Turner tampil maksimal, ditambah konsep akhirat yang unik membuatnya layak ditonton. Jika kamu suka film seperti Defending Your Life atau Ghost tapi ingin sesuatu yang lebih ringan dan kontemporer, ini pilihan tepat. Jangan lewatkan—bisa jadi salah satu film yang bikin kamu memeluk pasangan lebih erat setelah keluar bioskop. Selamat menonton, dan siapkan tisu!

Baca Selengkapnya Hanya di….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *